Tuesday, August 23, 2011

Ada Impian di Adzkia

Namanya Nuraini, biasa dipanggil Aini. Usianya terbilang muda, 18 tahun. Sepintas tak ada yang istimewa dalam dirinya. Kesehariannya pun mungkin tak jauh dengan dengan anak  lainnya. Belajar,  bermain, sekolah,  dan sesekali membantu kedua orang tua. Sekolahnya juga  tidak di tempat  yang memiliki fasilitas serba ada, apalagi mahal.

Sejak kelas 1 SMA, Aini bersekolah  di Adzkia  lslamic  School (AlS) Dompet Peduli Ummat  (DPU) Daarut Tauhiid. Sebuah sekolah yang berdiri di atas tanah wakaf  sejak  tahun 2008. Sekolahnya gratis. Tanpa  dipungut biaya apa pun. Tapi,  itu bukan berarti pendidikan yang diberikan bersifat ala kadar.

Aini dan dua orang  teman, Roby, dan Onil, membuktikan bahwa kualitas yang dimiliki siswa AIS bukan ala kadarnya. Siswa AIS mampu  bersaing  dengan sekolah-sekolah  bergengsi lainnya.

Sabtu (13/6), mereka  bertiga  berhasil masuk  final dalam Olimpiade Ekonomi  Syariah yang dilaksanakan di Balai
Walikota Depok. Acara yang diselenggarakan  oleh STEI  SEBI itu,  tak begitu  lama mereka  persiapkan,  hanya tiga minggu. Tapi Alhamdulillah, hasil memuaskan  dapat mereka  raih.

Saat ini Aini dan Roby sedang menunggu  hasil SNMPTN. Aini memilih UPI Bandung  dan UIN Jakarta. Adapun  Roby memilih  UNPAD dan UIN Jakarta. Mereka  berharap dapat melanjutkan  ke perguruan  tinggi yang menjadi  impiannya  itu.

Walau  tidak  lama di AlS,  rupanya AIS begitu  berkesan di hati mereka. ”Saya  ingin  sekali menjadi guru. Kalau cita-cita  saya tercapai menjadi guru, saya  ingin ngajar  di AlS," ujar Aini.
"Terima  kasih kepada  donatur yang telah membuat  saya dan teman-teman  bisa sekolah. Tanpa mereka, kami mungkin tidak bisa bersekolah seperti saat ini. Semoga amal ibadah para donatur diterima oleh Allah SWT,"  lanjutnya.
Belajar di perguruan tinggi memang merupakan  impian  terbesar mereka. Hanya saja, halangan besar mungkin menanti yaitu biaya. Menyikapi hal tersebut, AIS memfasilitasi  para alumninya yang  ingin meneruskan sekolah hingga  ke perguruan  tinggi melalui program  Beasiswa  Kader.
"Untuk saat  ini kami membantu 50% per semester, sisanya mereka mencari  sendiri. Mereka  bisa kuliah sambil bekerja,  baik itu dengan mengajar atau aktifitas lain yang menopang  kemandirian mereka.
Syukur-syukur  bisa membiayai sampai lulus,"  tutur M. Ihsan, Kepala Sekolah SMA AlS.

Sama halnya dengan sekolah lain, saat ini AlS pun sedang menjalankan agenda tahunannya, penerimaan  siswa baru. Berbeda dengan sekolah  lain, AIS memilih siswa dari keluarga  dhuafa, komitmen  orang  tua dan siswanya. Walau ruang kelas dan sarana masih terbatas, AIS tetap akan bangkit.

Berjuang  terus agar pendidikan  dapat dirasakan  masyarakat  paling dhuafa sekali pun. Tentunya  dengan  izin Allah dan bantuan  para donatur (swdy)

No comments:

Post a Comment